Untuk Anakku Kelak
((Surat ini ditulis untuk ditujukan kepada anakku kelak,
bila aku sudah berminat untuk menikah dan memiliki momongan.))
Nak, barangkali engkau tak sengaja menemukan tulisan
ini dan engkau masih hidup dalam pusaran kesulitan ekonomi. Maka maafkan aku; bapakmu
yang tidak dapat memberi harta yang bergelimang. Tapi tentu saja akan ku usahakan
agar hidup kita sejahtera dengan cara-cara terhormat. Agar engkau senantiasa
hidup berbahagia meski kita dalam pusaran kesulitan ekonomi. Aku tak ingin kebahagiaanmu
menjadi sumber derita bagi banyak orang, lebih-lebih penderitaan rakyat kelas
bawah yang tertindas, nak.
Bapakmu menulis surat ini dilandasi oleh
kekhawatirannya tentang nasibmu kelak. Nak,
aku ingin berpesan kepadamu bahwa kita musti lah bersabar diri menghadapi
situasi-situasi sulit dalam istana kecil kita yang disebut rumah. Meski sehancur
apapun dunia, suasana rumah musti harus seindah surga. Meski nanti rumah kita
kecil, engkau harus bersyukur. Bapak tak ingin memiliki kekayaan melimpah yang
didapat dari cara pemerasan dan kekerasan terhadap manusia. Pada tahun 2022,
telah tersebar berita mengenai anak bupati di negeri nun jauh sana, ia dengan bahagia
merayakan hari lahirnya di rumah yang dapat dikatakan sangat megah. Selang beberapa
waktu, tersebar lagi bahwa bapaknya tertangkap tangan oleh lembaga anti rasuah.
Tapi dibalik megah rumahnya terdapat penjara untuk mengeksploitasi tenaga
kerjanya. Para pekerjanya tentu mengalami gangguan mental disertai muka
lebam-lebam. Nak, semoga rumah kita tak seperti itu. Rumah adalah surga dan
jangan sampai surga kita menjadi neraka bagi orang lain.
Nak, dari rumah kita -yang mungkin- kecil ini, bapak
berharap impianmu tetap besar. Bapak tak akan mengkerdilkan mimpi-mimpimu. Bapak
juga tak melarang keinginanmu untuk jadi apapun itu. Selama keinginanmu bermartabat.
Yang terpenting engkau tau bahwa hidup adalah
kompetisi jangka panjang, untuk itu siapkan peralatan tempur agar engkau tak
hancur.