Perkenalkan, namaku Ifan. Saat tulisan ini diunggah di blog pribadiku, aku adalah seorang guru. Guru memiliki banyak stereotip di mata masyarakat, ada anggapan bahwa guru adalah sosok mulia pahlawan tanpa tanda jasa, ada pula anggapan bahwa profesi guru adalah profesi terakhir atas orang yang pasrah pada takdir atas tidak diterimanya di suatu perusahaan, dan dari berbagai stereotip yang berkembang yang paling menjengkelkan adalah anggapan bahwa guru adalah pendidik yang musti ikhlas tak boleh banyak menuntut dan mengeluh. Padahal menuntut dan mengeluh adalah hal manusiawi yang muncul dari orang-orang yang perutnya lapar.
Sebelum tulisan ini ku lanjutkan, aku ingin membuat pernyataan bahwa apa yang ku tulis ini adalah keresahan yang muncul dari lingkunganku, teman-temanku se bangku kuliah yang saat ini mencoba nasib baiknya di lingkungan pendidikan. Aku tidak membawa data konkrit di sini, toh lagi pula data adalah suatu intrumen yang kerap dengan mudah dimanipulasi. Aku juga tidak membawa dalil baik logis maupun teologis di tulisan ini, sebab aku ingin menuangkan keluh kesahku mewakili teman-temanku, bukan untuk menulis skripsi-skripsi semu. Dan tulisan ini ku buat bukan untuk bermaksud untuk memprovokasi siapapun, tetapi jika engkau terprovokasi maka bagus lah sebab kita musti bangkit dan berpikir kritis atas provokasi-provokasi. Tulisan ini juga ku buat bukan untuk bermaksud menyinggung siapapun, atau jika engkau tersinggung maka berbenah lah.
Kembali pada keresahan. Anggapan bahwa pendidik atau guru adalah orang mulia, pahlawan tanpa tanda jasa, manusia yang sabar-tulus-ikhlas, justru kerap kali digunakan sebagai landasan untuk menindas dengan dalih-dalih yang mulia serta iming-iming surga. Apa buktinya? Sederhananya, upah rata-rata guru di republik ini sangat minim, bahkan untuk menjamin kebutuhan dasar hidup pun masih tak cukup. Ya!, mungkin ada yang layak, itu pun di sekolah yang mahal, sekolah internasional, dan boarding school yang SPP nya tak murah. Namun, tetap saja, yang mendekati UMR bisa dikatakan tak banyak. Itu adalah realitas di sekolah-sekolah kota besar. Bagaimana dengan daerah yang terpencil? Saya rasa bahkan lebih hancur.
Dari tahun ke tahun, kurikulum diubah-ubah dan dibongkar-pasang setiap kekuasaan berpindah tangan. Tetapi naasnya, yang terjadi justru degradasi moral dan hilangnya marwah dunia pendidikan sebagai kawah candradimuka umat manusia. Tanpa menutupi kemunafikan, saya dulu juga dapat dikatakan sebagai murid yang bandel, guru saya dulu bisa dengan tega menampar pipi saya hingga saya terdiam membisu. Tetapi sekarang? Banyak murid dan walinya yang justru relasi kuasanya lebih tinggi dari para pendidik. Di zaman ini, guru salah bertindak sedikit maka bersiaplah masuk jeruji besi. Padahal kurikulum yang katanya disesuaikan perkembangan zaman itu adalah yang relevan untuk saat ini. Tetapi justru posisi guru menjadi semakin terdesak. Yang diuntungkan dari kurikulum yang diubah-ubah ini adalah stakeholder terkait, sebab perubahan kurikulum menghabiskan dana yang tak kecil, bahkan masih kecil gaji guru-guru di pelosok desa terpencil nun jauh di sana. Dari perubahan kurikulum yang menghabiskan dana itu, tak ada pembahasan hak imunitas guru untuk melindungi marwahnya sebagaimana DPR memiliki hak imunitas atau hak bebas berbicara meski ngelantur seperti orang mabuk kecubung tanpa takut dipenjara atas pernyataan yang keluar dari mulutnya.
Mendidik adalah menderita. Dari apa yang ku tulis -panjang lebar- di atas, apa yang kutulis adalah keresahan yang terjadi di akar rumput dunia pendidikan di republik yang teramat sangat sekali demokratis ini. Lebih-lebih aku tak habis pikir saat mengikuti workshop kurikulum kemudian ada yang bertanya “bagaimana jika guru model lama kelepasan menampar muridnya kemudian berurusan dengan hukum, apa langkah DPR dan stakeholder terkait?” yang kemudian hanya dijawab secara normatif bahwa “DPR tidak memiliki kewenangan untuk membantu proses hukum, maka dalam mengajar perbanyak bersabar”. Kasian sekali penderitaan guru atau pendidik di zaman ini. Alih-alih perubahan kurikulum menghasilkan sesuatu yang memerdekakan guru, justru mendidik adalah menderita.